Filsafat Alam (Thales)

Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan, Kenapa filsafat awal atau yang kita kenal dengan filsafat pra sokrates disebut filsafat alam?

Hal ini karena filsafat periode pertama ini mempunyai karakter berbeda dengan pemikiran filsafat setelahnya seperti zaman sokrates dan setelah sokrates.  Para tokoh filsafat pra skorates mencari unsur induk (arce) yang dianggap asal dari segala sesuatu.[1] Jika kita flashback pada pertemuan sebelumnya yang membicarakan mengenai ciri-ciri berfikir filsafat, maka melihat aktifitas dari pada para filsuf periode awal ini merupakan salah satu contoh penerapan dari ciri-ciri berfikir fisafat itu, seperti  Berfikir radikal (mengakar). Mengapa radikal, karena kita tidak akan pernah memahami secara jelas apa yang ada pada suatu pohon, jika kita tidak lebih dulu memahami seperti apa akarnya. menurut ali maksum apabila akar suatu permasalahan  telah ditemukan, permasalahan itu akan mudah dimengerti. Hal yang sama juga disampikan oleh Dr. Stephen Palmquis dalam bukunya The Tree of Philosophy bahwa filasafat berusaha melihat hal-hal yang terdapat dibawah permukaan.[2]

Nah berikut pemaparan singkat mengenai pemikiran Thales (624-545 SM) yang dikenal sebagai pelopor filsafat alam.

kenyataan yang terdalam adalah satu substansi yaitu air” (Thales)

Thales lahir di Miletus, Yunani. Pemikirannya yang sangat terkenal ialah zat utama yang menjadi dasar semua kehidupan adalah air.[3] Dengan pernyataan itulah sehingga Thales diaanggap sebagai salah satu dari tujuh orang bijak yunani.

Menurut Aristoteles, Thales berpendapat bahwa air adalah substansi dasar yang membentuk segala hal lainnya, dan ia mengatakan bahwa bumi terapung di atas air. Berdasarkan penuturan Aristoteles, Thales juga mengatakan bahwa magnet memiliki jiwa, karena bisa menggerakkan besi. Selain itu, segala sesuatu sesungguhnya penuh dengan dewa-dewa.[4]

Thales percaya bahwa alam semesta ini dapat dimengerti oleh akal. Oleh karena itu ia menggunakan akalnya untuk mengamati alam dan mengatakan bahwa semua adalah air. Air adalah pangkal, pokok dan dasar (prinsip) segala-galanya. Semua terjadi dari air  semua kembali kepada air pula. Bagi Thales, air tidak hanya sebagai sebab pertama dari segala yang ada dan yang jadi, Tetapi juga akhir dari segala yang ada dan jadi itu.  Pernyataan bahwa segala sesuatu terbuat dari air bisa dianggap sebagai hipotesis ilmiah. Karena 20 tahun yang lalu sudah diterima pandangan bahwa segala sesuatu terbuat dari hidrogen. Yang dua pertiganya adalah air.[5]

Pemikiran Thales mengenai air sebagai prinsip dasar segala sesuatu bukan tanpa alasan. Menurut Thales, tanpa ada sebab-sebab di luar dirinya, air mampu tampil dalam segala bentuk, bersifat mantap, dan tak terbinasakan. rasionalisasi Thales terhadap pandangan tersebut adalah bagaimana bahan makanan semua makhluk hidup mengandung air dan bagaimana semua makhluk hidup juga memerlukan air untuk hidup. Selain itu, air adalah zat yang dapat berubah-ubah bentuk (padat, cair, dan gas) tanpa menjadi berkurang.[6]


[1] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Ar-ruzz Media,  Yogjakarta, 2010, hal. 43

[2] Dr. Stephen Palmquis, Pohon filsafat, Pustaka Pelajar, Yogjakarta, 2002,  hal. 5

[3] Ali Maksum, Pengantar , Op.cit., Hal.  44

[4] Bertrand Russell, Sejarah filsafat Barat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2007, hal.33

[5] Ibid

[6] http://Thales (624-546 SM) « biografi.htm 

 

3 thoughts on “Filsafat Alam (Thales)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s