Di Balik Gagalnya Uji Emisi Mobil ESEMKA

Pada dasarnya semua manusia itu baik, dan mau diajak kerjasama. Demikian asumsi yang dipegang oleh para pemikir liberal. Menurut adam Smith, Ekonomi pasar adalah sumber utama kemajuan, kerjasama dan kesejahteraan. Campur tangan politik dan peraturan negara adalah hal yang tidak ekonomis dan menyebabkan kemunduran ekonomi dan menyebabkan konflik (Giplin 1987:30). [1] Keyakinan inilah yang dipegang oleh pemerintah Indonesia, sehingga menerapkan system ekonomi liberal, yang tentunya menerapkan prinsip-prinsip dasar liberlisme ekonomi. System ekonomi Liberal yang diterapkan Indonesia memungkinkan produk-produk Indonesia diekspor keluar, dan begitu juga sebaliknya. Dengan system ekonomi liberal, diharapkan produk dan industry dalam negeri dapat berasaing dengan sehat, sehingga dengan sendirinya memacu para produsen untuk lebih kreatif lagi dalam memproduksi produk-produknya jika tidak mau kalah saing.

Diantara kelebihan-kelebihan liberlisasi, ternyata terdapat sisi negatif yang seringkali muncul sebagai turunan dari liberalisasi tersebut. Sisi negative yang dimaksud yakni memungkinkan adanya kapitalisme dan kolonialisme baru (Neo-kolonialisme). Praktik neo-kolonialisme inilah yang menjadi dasar penulisan ini. Dalam penulisan ini, penulis berusaha untuk mengungkap fakta-fakta yang terdapat dalam uji esmisi mobil ESEMKA, yang dilakukan pada 27 februari 2012 oleh Kementerian Perhubungan  di Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi (BTMP), Tangerang Selatan, yang diduga sebagai praktek Neo-kolonialisme.

Mobil Esemka Mobil Esemka merupakan prototipe karya murid-murid SMK daerah Surakarta, Jawa Tengah.[2] Pada Februari 2012, Mobil ini diusulkan untuk menjadi mobil Nasional. Gagasan untuk menjdikan mobil Esemka sebagai mobil nasional merupakan gagasan yang dinantikan oleh masyarakat Indonesia, dimana masyarakat Indonesia selama ini mendambakan adanya produk asli Indonesia yaitu mobil nasional. Namun harapan itu masih jauh dari kenyataan, karena selalu gagal dalam Uji Emisi. Apakah gagalnya uji emisi mobil Esemka merupakan hal yang wajar? pertanyaan inilah yang akan dijawab oleh penulis dalam penelitian ini.

Penggunaan teori / perspektif liberal dalam penulisan ini dapat menjelaskan bagaimana kebebasan kemudian melahirkan neo-kolonialisme yang terjadi pada peristiwa gagalnya uji emisi Mobil Esemka. Kegagalan uji emisi esmka merupakan usaha yang lakukan oleh ATPM  (Agen Tunggal Pemilik Merk) Luar yang ada di Indonesia. Hal ini sangat mungkin terjadi, mengingat system liberal yang diterapkan di Indonesia yang memberikan kebebasan kepada pasar untuk bersaing, sehingga tidak ada control langsung dari pemerintah.

Mobil Esemka dan Keistimewaannya

Pemilihan Nama mobil esemka Karena di produksi oleh siswa SMK 2 surakarta dan smk Surakarta yang bekerjasama dengan bengkel kiat motor klaten Indonesia. Keistimewaan dari mobil ini dapat dilihat dari segi eksterior mobil ini terlihat garang dan elegan. Berkat ada sentuhan model head lamp yang bergaya futuristic. Kesan sporty juga terlihat pada bagian grill dan fog lamp di bagian bumper. Salah satu Kelebihannya juga adalah sudah terdapat sensor parkirnya. Dan dari segi interior memiliki kapasitas tujuh penumpang, dan dilengkapi dengan power window, AC dual zone, power stering, central lock, system audio dengan CD dan sensor parker. Esemka rajawali 1.5i bisa mngkonsumsi bahan bakar bensin (RON 88) atau prmium dengan kapasitas tangki 75 liter. Kapasitas mobil ini 1.5oo cc dengan empat silinder plus bahan bakar injeks. Mesin yangdiadopsi dari timor ini diklaim dapat menyemburkan 105 tenaga kuda pada putaran mesin 5.500 rpm. Komposisi bahan baku pembuatan mobil kiat esemka ini 80% merupakan dari local dan sisanya import.[4] Jika di produksi secara masal, diperkirkan harga mobil Esemka berkisar 95 Juta.

Melihat keistimewaan dan harganya terjangkau murah, maka sangat wajar jika industry mobil luar merasa terancam atas pasar mereka. hal ini apalagi ada wacana yang muncul bahwa mobil Esemka Direkomendasikan untuk dijadikan mobil Nasional Indonesia.

Esemka Gagal Uji Emisi dan Fakta-fakta Yang Ada

27 februari 2012 Kementerian Perhubungan menyatakan bahwa mobil Esemka tidak lolos uji emisi dalam pengujian di Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi (BTMP), Tangerang Selatan. karbon monoksida yang dikeluarkan mobil esemka sebesar 11,63 gram/kilometer, dan HC+NOx sebesar 2,69 gram/kilometer. Sesuai Standar euro 4, kandungan karbon monoksida yang harus di hasilkan oleh mobil adalah  lima gram/kilometer, HC+NOx 0,70 gram/kilometer.  Memang mobil Esemka tidak lulus uji Emisi jka menggunakan Euro 4. Tapi pertanyaannya adalah apakah gagalnya uji Emisi Mobil esemka adalah hal yang wajar? berikut adalah analisa dari beberapa data  dan fakta yang di temukan:

Bahwa sebenarnya standar Euro 4  tidak harus digunakan oleh semua Negara, karena memang pengguanaan stamdar tersebut masih belum merata di seluruh dunia. Sebut saja Thailand yang menggunakan Euro  2 pada tahun 1995 dan singapura menggunakannya pada tahun yang berbeda yaitu pada tahun 1997. selain itu juga, Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara membenarkan adanya indikasi permainan dari ATPM untuk menggagalkan kehadiran mobil nasional seperti mobil Esemka di pasar mobil dalam negeri. Anggota Komisi VI DPR Fraksi PDI Perjuangan Aria Bima membenarkan adanya dugaan dan potensi persaingan tidak sehat antara ATPM dan produsen mobnas yang pada gilirannya mengganjal langkah ketiga cikal-bakal mobnas, yakni mobnas Esemka Rajawali, mobnas Kancil dan mobnas Gulirkan Energi Alternatif (GEA) untuk masuk dalam perindustrian dan perdagangan mobil di Indonesia.[5]

Pengamat otomotif Johnny Pramono menerangkan dalam Liputan 6 com bahwa beliau menilai mobil Esemka tidak perlu melakukan uji emisi karena mobil rakitan siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) di Solo, Jawa Tengah ini menggunakan mesin mobil Timor. yang jelas, uji emisi itu tidak perlu dilakukan lagi karena masih banyak kendaraan di Indonesia yang emisi gas buangnya tidak bagus, namun masih saja berkeliaran di jalan,” kata Johnny. Johnny menilai terdapat pihak-pihak yang merasa dirugikan jika nantinya Esemka benar-benar diproduksi secara massal dan dijadikan mobil nasional.[6]

Dalam wawancara penulis dengan Drs. Agus Sudarto (Humas SMK Negeri 1 Singosari) mengatakan bahwa memang ada upaya yang dilakukan oleh ATPM-ATPM yang ada untuk menggagalkan uji esmisi esemka. Menurut beliau, ada pihak yang tidak rela jika pangsa pasarya direbut oleh mobil Esemka.

Fakta lain yang memperlihatkan adanya ketidak wajaran dalam gagalnya uju emisi Esemka adalah setiap kali uji emisi, standarisasi yang digunakan selalu berubah. Pada uji Emisi pertama menggunakan Euro 2 dan uji Emisi berikutnya yang dilakukan beberapa bulan lalu menggunakan Euro 4.

Dari beberapa fakta yang ditemukan, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa gagalnya uji Emisi mobil Esemka bukanlah hal yang wajar. ada indikasi persaingan yang tidak sehat yang dilakukan oleh ATPM-ATPM luar yang ada di Indonesia. Hal ini disebabkan karena adanya kekhawatiran jika Mobil esemka lolos uji esmisi dan di Produksi secara missal, maka pasar mereka akan direbut oleh Mobil Esemka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s