INTELEKTUAL UNTUK ILMU ATAU INTELEKTUAL UNTUK PERUBAHAN?

Masa transisi antara dunia pendidikan dengan masyarakat” pernyataan ini setidaknya mengarahkan kita pada sebuah identitas yang sering dialamatkan kepada para pemburu ilmu yang mencari buruannya di lingkungan perguruan tinggi. Adalah mahasiswa sebagai Agent of Change, adalah mahasiswa sebagai Agent of Social Cotrol, menjadi identitas yang dibawa oleh Mahasiswa, yang tentunya menjadi tanggung jawab intelektual bagi mereka yang menyandang predikat kaum intelektual tersebut.

Sayangnya, tanggung jawab itu mulai kabur dengan munculnya dinamika dalam proses intelektual mereka. Intelektual untuk ilmu menjadi sapaan yang pas bagi mereka yang menggunakan ilmu mereka semata untuk kepentingan pengembangan keilmuan saja. Pengembangan keilmuan mereka semata-mata demi kemajuan ilmu modern yang semakin jauh dari praxis. Bukan bermaksud menegasikan mereka yang menghabiskan waktu mereka dengan membaca buku, atau mereka yang matanya merah karena berjam-jam di depan komputer, namun yang menjadi pertanyaan kemudian adalah untuk apa ilmu itu?

Bios Theoritikos  yang merupakan cikal bakal teori-teori modern saat ini, sebenarnya tidak pernah terlepas dari kehidupan manusia. F. Budi Hardiman (dalam Kritik ideologi: 2009), memberikan penekanan bahwa ilmu atau teori-teori yang ada harus mampu mendidik jiwa manusia dari perbudakan dan untuk mencapai otonomi dan kebijaksanaan manusia. Artinya jika berbicara mengenai ilmu atau teori-teori yang ada, maka idealnya tidak terlepas dari kehidupan manusia dalam bentuk praxis. Sayangnya ilmu pengetahuan modern tidak mampu menjawab hal itu, yang terjadi malah para intektual semakin di kendalikan oleh ilmunya sendiri, dan tak jarang juga ilmu yang mereka punya  hanya digunakan sebagai instrumen untuk mencapai  kepentingan tertentu.

Intelektual untuk perubahan adalah mereka yang selalu menghubungkan antara ilmu atau teori dengan praxis. Mereka adalah para intelektual  yang memusatkan perhatian mereka pada ilmu yang semata-mata untuk menjadi corong perubahan. Mereka yang meyakini bahwa ilmu atau teori yang ada merupakan suatu bentuk kehidupan. Maka pemisahan antara teori dan praxis yang hari ini menjangkiti para intelektual untuk ilmu merupakan pergeseran makna dari intelektual itu sendiri yang harus segera diluruskan.

Memang antara Intelektual untuk ilmu dan Intelektual untuk perubahan adalah sebuah pilihan dari setiap individu. mereka yang memilih menjadi intelektual untuk ilmu akan menghabiskan waktu mereka untuk mengembangkan keilmuan mereka demi kemajuan ilmu sedangkan  intelektual untuk perubahan akan selalu menguras otak mereka untuk menciptakan perubahan lewat ilmu yang mereka punya dan ilmu yang mereka ciptakan.

Falacy of understanding

Ada hal yang perlu kita luruskan dalam konsep Intelektual untuk perubahan. Tanpa kita tunjuk pun, dari pengertian di atas seketika mengarahkan kita pada mereka yang aktif dalam dunia pergerakan, mereka yang aktif melakukan propaganda dan melontarkan isu-isu atau wacana atas nama perubahan. Apakah mereka sudah bisa dikatakan sebagai intelektual untuk perubahan? Hemat saya, mereka masih dalam proses menuju kearah sana. Namun ada kesalahan yang fatal dalam proses tersebut. Dimana masih ada beberapa yang fokus dalam pergerakan namun meninggalkan ilmu yang seharusnya menjadi pisau mereka dalam memotong pita perubahan. Proses intelektual mereka masih merangkak sedangkan pergerakan mereka sudah terbang begitu tinggi. Hal ini yang menjadi catatan besar dimana identitas intelektual untuk perubahan kemudian menjadi kabur dengan istilah para pembuat rusuh. Karena memang, cara yang dilakukan kadang memperlihatkan bahwa mereka bukanlah kaum intelektual yang sedang memperjuangkan perubahan.

Istilah lain yang menjadi tantangan  yang harus mereka jawab adalah, bagaimana mau melakukan perubahan kalau merubah diri sendiri saja masih susah?

Hal ini menjadi tantangan yang menurut saya begitu berat, karena untuk menjadi corong perubahan memang tidak hanya sekedar bergerak dan mampu menggerakkan. Intelektual untuk perubahan harus menjadi teladan bagi yang lainnya, baik dari segi wacana intelektual maupun dalam keseharian mereka. Intelektual untuk perubahan akan memperlihatkan bahwa dia adalah seorang intelektual yang memiliki basic wacana yang kuat, dan itu akan tercermin dari kehidupannya sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s